“Kau tahu,, hari ini berapa surat cinta norak yang
kuterima??”
“Memangnya lebih banyak dari pada surat cinta khalayalan yang kau kirimkan padaku??”
“Memangnya lebih banyak dari pada surat cinta khalayalan yang kau kirimkan padaku??”
“Hei nona,, aku tak pernah mengirimi mu surat semacam
itu. Berhentilah berkhayal.”
“Jadi berapa tumpukan kertas yang berserakan di kamarmu kali ini? Perlu kubantu balaskan satu persatu?”
“Kau tahu gadis manis yang selalu menonton pertunjukan gitarku diam-diam dalam kelas? Kau akan muntah begitu tahu betapa tergila-gilanya dia padaku. Hahaha.. Tapi siswa tahun pertama boleh juga. Sebagian besar dari mereka mengidolkanku saat penerimaan siswa baru. Kau ingat? Hahaha.. Kau tak tahu seberapa populernya aku sayang.. Jadi berhentilah mengarang cerita kalau aku memberimu surat cinta setiap minggu. Beberapa gadis datang ke kelasku menanyakan hal konyol itu. Merepotkan”
“…..”
“Jadi berapa tumpukan kertas yang berserakan di kamarmu kali ini? Perlu kubantu balaskan satu persatu?”
“Kau tahu gadis manis yang selalu menonton pertunjukan gitarku diam-diam dalam kelas? Kau akan muntah begitu tahu betapa tergila-gilanya dia padaku. Hahaha.. Tapi siswa tahun pertama boleh juga. Sebagian besar dari mereka mengidolkanku saat penerimaan siswa baru. Kau ingat? Hahaha.. Kau tak tahu seberapa populernya aku sayang.. Jadi berhentilah mengarang cerita kalau aku memberimu surat cinta setiap minggu. Beberapa gadis datang ke kelasku menanyakan hal konyol itu. Merepotkan”
“…..”
“…..”
“Hei, apa aku harus mulai berkencan dengan beberapa pria? Sepertinya menarik.”
Kau menatapku nyalang. Lalu terdiam. Waktu
itu di malam yang sangat dingin di atas trampoline halaman rumahku. Hening. Tak
ada satupun yang bersuara setelahnya. Lalu kau pun turun dari atas trampoline. Berjalan
menjauh sambil tertunduk. Aku bertanya-tanya, apa kau sedang PMS? Atau kau
sedang terburu-buru pulang menulis balasan surat cintamu? Lalu kemudian kau
berbalik. Kembali menatapku dengan mata nyalang berapi-api. Seperti singa yang
siap memangsa kelinci. Aku tidak pernah melihat singa memakan kelinci. Apa mereka
boleh memakan kelinci? Entahlah. Kau menghampiriku dengan tergesa-gesa..
“Kuberi tahu padamu gadis manis. Kau. Hanya. Milikku!
Jangan pernah berfikir mendekati pria lain. Apa katamu? Berkencan? Dengan banyak
pria? Oh demi Tuhan akan kubunuh mereka satu persatu. Coba saja kalau berani.”
Kau mengatakannya tanpa jeda, penuh amarah seperti singa yang kusebutkan
tadi lagi pergi meninggalkan halaman
rumahku. Melompat ke atas pagar kayu putih sepinggang. Kulihat kau masuk ke
dalam rumahmu tanpa menoleh sedikitpun.
Kita masih kelas 11 waktu itu. Di atas sebuah trampoline
kau menyatakan kepemilikanmu tanpa bertanya padaku. Kau tahu tuan sok tahu??? Sepertinya
PMSmu benar-benar kacau..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar